Tuesday, December 18, 2012

MUTAN H5N1 UNTUK KITA RENUNGKAN

A NEW FACT More evident for Darwono's Hypothesis that Environment Changes make the atmosphere as GIANT MUTATION TUBE by the new fact that H5N1 Virus killed ducks. Although, as we know that duck are most immune from any diseases as such as from NCD (Tetelo), AI (Avian Influenza) and others
H5N1 adalah salah satu subtipe virus influenza yang menyebabkan penyakit flu burung. Virus ini menimbulkan penyakit pada banyak spesies vertebrata, termasuk manusia, dan berpeluang menjadi pandemik influenza. Para ahli mengkhawatirkan bahwa virus H5N1 dapat bermutasi menjadi bentuk yang dapat menular dengan mudah dari manusia ke manusia, meskipun sampai sekarang belum ada kejadian kuat yang mendukung kekhawatiran itu. Mutasi seperti itu pernah terjadi ketika virus H2N2 berevolusi menjadi strain Flu Hong Kong
H5N1 adalah subtipe dari spesies Influenza A''''virus dari genus Influenzavirus''A''dari keluarga Orthomyxoviridae''''. Seperti semua influenza subtipe A lainnya, subtipe H5N1 merupakan virus RNA. Ia memiliki genom tersegmentasi dari delapan arti negatif, satu-helai RNA, disingkat PB2, PB1, PA, HA, NP, NA, MP dan NS.
HA kode untuk hemaglutinin, suatu glikoprotein antigen yang ditemukan pada permukaan virus influenza dan bertanggung jawab untuk mengikat virus ke sel yang terinfeksi. Kode NA untuk neuraminidase, sebuah enzim antigen glikosilasi ditemukan pada permukaan virus influenza. Ini memfasilitasi pelepasan virus dari sel yang terinfeksi progeni.
The hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) RNA untai menentukan struktur protein yang paling medis yang relevan sebagai target untuk obat antivirus dan antibodi. HA dan NA juga digunakan sebagai dasar penamaan yang berbeda subtipe virus influenza A. Ini adalah tempat''H''dan''N''berasal dari dalam''''H5N1.
Virus influenza A memiliki potensi signifikan yang menyebabkan penyakit dan kematian pada manusia dan hewan lainnya. Virus Influenza subtipe yang telah dikonfirmasi pada manusia, dan telah diketahui pandemi manusia.
Patogen H5N1 Rendah : Virulensi H5N1 dikenal berada pada level rendah , Virulensi flu burung H5N1 (LPAI H5N1) juga biasa disebut H5N1 "Amerika Utara" biasanya terjadi pada burung liar. Dalam kebanyakan kasus, serangan H5N1 menyebabkan sakit ringan atau tidak ada tanda-tanda penyakit yang nyata pada burung. Sementara itu, pengaruh pada manusia tidak diketahui sama sekali. Kekhawatiran satu-satunya tentang itu dimungkinkan ditransmisikan kepada unggas dan kemudian bermutasi menjadi strain patogenik tinggi. Serang H5N1 pada bebek tedeteksi pada seekor bebek mallard liar dan angsa biru liar di wiconsin pada tahun 1975. Kemudian pada tahun 1981 dan 1985 - LPAI H5N1 terdeteksi pada itik oleh University of Minnesota dengan metode sampling di mana bebek ditempatkan di alam liar untuk waktu singkat dan kemudian dipantau.
Tinggi laju mutasi : Virus influenza memiliki laju mutasi yang relatif tinggi yang merupakan karakteristik dari virus RNA. Segmentasi genom memfasilitasi rekombinasi genetik dengan reassortment segmen pada host yang terinfeksi dengan dua virus influenza yang berbeda pada waktu yang sama. Ini tidak berarti bahwa satu substitusi asam amino dapat menyebabkan pandemi, juga tidak berarti bahwa satu substitusi asam amino dapat menyebabkan virus flu burung yang tidak patogen pada manusia berubah menjadi patogen pada manusia.
Virus influenza A subtipe H3N2 bersifat endemik pada babi di China, dan telah terdeteksi pada babi di Vietnam, meningkatkan kekhawatiran munculnya strain varian baru. Strain yang dominan virus flu tahunan pada bulan Januari 2006 adalah H3N2, yang sekarang resisten terhadap amantadine obat standar antivirus dan rimantadine. Kemungkinan pertukaran gen H5N1 dan H3N2 melalui reassortment merupakan perhatian utama. Jika reassortment di H5N1 terjadi, mungkin tetap menjadi subtipe H5N1, atau bisa bergeser subtipe, seperti H2N2 yang berkembang menjadi strain Flu Hong Kong H3N2.
Dari kronologis epidemilogi viru H5N1 tersebut. Dapat diketahui bahwa H5N1 memiliki virulensi rendah dan sangat langka bahkan hamper belum ada ditemukan mematikan itik. Oleh karenanya kematian masal itik itik yang terjadi dibebarapa daerah di Indonesaia terutama pada sentra-sdentra itik/bebak di pulau jawa perlu mendapatkan perhatian khusus. Kemungkinan visur H5N1 bermutasi menjadi strain yang tingkat virulensinya tinggi dapat saja dijadikan salah satu alasan. Masalahnya apa penyebab terjadinya mutasi ? Bagaimana mekanisme mutasi itu terjadi ? dan prediksi-perdiksi apa yang perlu diberikan terkait dengan mutasi visru H5N1 itu sendiri dan lebih jauh lagi bagaimana implikasi secara luas dari fenomena terjadinya mutasi tersebut ?
Darwono’s Hypothesa memberikan gambaran bahwa perubahan lingkungan dengan berbagai polutan kimiawi dan fisik yang mutagenic telah mengubah atmosphere menjadi Giant Mutation Tube yang memungkinkan terjadinya mutasi terutama dimulai pada “metaorganisme” (Virus) dan organisme tingkat sel seperti bakteri dan prokariot lain juga ornaisme lain pada tingkat molekul genetisnya (DNA dan RNA).
Oleh karenanya berbagai fenomena mutasi organism yang berturut turut terjadi pada berbagai macam virus, bakteri, dan ornganisme lain dapat memberikan kontribusi bukti bahwa saat ini kita hidup dalam tabung reaksi mutasi raksasa, yang jika tidak secara segera dan bersama (serentak) kita bahu membahu peduli bias saja menjelma menjadi ancaman kehancuran manusia dan peradabannya.
Perubahan iklim, perubahan ilngkungan, dimana lingkungan bergeser menjadi tidak sebagaimana keperuntukannya benar-benar tidak dianggap hal sepele. Kematian itik/brebak jangan dianggap sekedar masalah peternakan, sebab dibalik itu semua tersimpan problematika global, Kehancuran Manusia dan Peradabannya akhibat ulah manusia itu sendiri. Quran 14 abad lalu mengingatkan, “Telah Nampak kerusakan di daratan dan lautan akhibat ulah tangan manusia”
Dan fenomena itu semakin dahsyat, karena kita mengabaikan peringatan itu dan hanya mengekploitasi apa yang semestinya kita olah dengan bijak. Mengotori yang mestinya kita bersihkan. Merusak apa yang mestinya kita perbaiki !. Semua itu resikonya akan kembali kepada manusia. Namun rasanya tidak adil jika mereka yang tidak berdosa namun harus menanggung resikonya

No comments:

Post a Comment